Saddam Hussein berdiri di podium, berbicara di depan mikrofon dengan latar bendera Irak era Ba’ath, suasana formal dan tegang.

22 Juli 1979: Pembersihan Politik Brutal Saddam Hussein

Pada 22 Juli 1979, dunia menyaksikan salah satu pertunjukan kekuasaan paling dramatis dan mengerikan dari abad ke-20. Di Baghdad, Presiden baru Irak, Saddam Hussein, memimpin sebuah sidang darurat Partai Ba’ath yang disiarkan secara langsung di televisi nasional. Apa yang tampak sebagai rapat politik biasa, berubah menjadi teater teror yang menghapus puluhan nyawa dan mengukuhkan cengkeraman kekuasaan Saddam selama lebih dari dua dekade.


Awal Kekuasaan dan Bayang-Bayang Ancaman

Enam hari sebelum peristiwa ini, Saddam Hussein menggantikan sepupunya, Ahmed Hassan al-Bakr, sebagai Presiden Irak. Secara formal, peralihan kekuasaan itu terlihat mulus, tetapi di balik layar, Saddam tahu posisinya rapuh.
Selama bertahun-tahun ia adalah figur paling berpengaruh di balik pemerintahan Irak, memimpin aparat keamanan dan mengendalikan intelijen. Namun, di tubuh Partai Ba’ath, masih ada faksi-faksi yang setia pada al-Bakr atau bahkan pada pemimpin Ba’ath di Suriah.

Diagram lingkaran konsentris yang menunjukkan Saddam Hussein di pusat kekuasaan, dikelilingi aparat intelijen, anggota inti Partai Ba’ath, dan rakyat Irak.
Struktur kekuasaan Saddam Hussein yang terpusat, dengan kontrol penuh atas intelijen, militer, Partai Ba’ath Irak, dan rakyat.

Saddam memutuskan untuk bertindak cepat. Ia tidak hanya ingin menyingkirkan lawan-lawan politiknya, tetapi juga ingin mengirim pesan yang tak terbantahkan bahwa tidak ada tempat untuk perbedaan pendapat—bahkan di lingkaran dalam partainya sendiri.


Hari yang Menentukan

Pagi itu, para anggota senior Partai Ba’ath menerima perintah untuk menghadiri rapat darurat di aula besar markas partai di Baghdad. Aula tersebut dipenuhi sekitar 68 tokoh paling berpengaruh di pemerintahan dan militer Irak. Kamera televisi sudah siap, mikrofon terpasang, dan Saddam berdiri di podium.

Dengan suara mantap, Saddam membuka rapat. Ia menuduh adanya konspirasi besar untuk menggulingkan pemerintahan, yang konon dipimpin oleh agen-agen yang berhubungan dengan Suriah. Tuduhan itu disampaikan dengan retorika penuh emosi, seolah-olah nasib bangsa sedang berada di ujung tanduk.

Kemudian, dengan naskah di tangannya, Saddam mulai membacakan daftar nama-nama “pengkhianat.” Setiap kali sebuah nama disebut, orang itu segera digiring keluar oleh aparat keamanan. Di antara mereka ada menteri, komandan militer, dan anggota politbiro. Suasana menjadi tegang, beberapa wajah pucat, tangan gemetar, mata beralih ke lantai untuk menghindari tatapan Saddam.


Strategi Teror yang Disiarkan

Tindakan Saddam bukan hanya pembersihan internal biasa. Dengan menyiarkannya secara langsung, ia menciptakan tontonan yang menggabungkan propaganda dan teror psikologis. Penonton di seluruh Irak—dari kota besar hingga desa terpencil—menyaksikan bagaimana satu per satu pejabat berpengaruh ditangkap di depan kamera.

Tampilan Saddam Hussein berbicara di podium dalam siaran televisi hitam-putih era 1970-an.
Cuplikan siaran televisi yang menayangkan langsung momen Saddam Hussein membacakan daftar nama pejabat yang dituduh berkhianat.

Bagi rakyat biasa, pesan itu jelas: jika orang-orang berpangkat tinggi pun bisa dijatuhkan secara publik, apalagi mereka yang berada di lapisan bawah. Bagi para pejabat yang masih setia, siaran itu adalah peringatan keras bahwa kesetiaan mereka akan selalu diuji.


Pengadilan Singkat dan Eksekusi

Dalam waktu singkat, “pengadilan” internal dilakukan. Dari 68 orang yang hadir, 22 dijatuhi hukuman mati. Namun Saddam menambahkan lapisan kekejaman: mereka yang selamat diperintahkan untuk mengeksekusi rekan-rekan mereka sendiri.

Perintah ini memiliki tujuan ganda. Pertama, untuk memastikan bahwa mereka yang selamat tidak punya pilihan selain terlibat langsung dalam kekerasan, sehingga sulit bagi mereka untuk menentang Saddam di masa depan. Kedua, untuk menciptakan trauma psikologis mendalam yang mengikat mereka pada rezim melalui rasa bersalah dan ketakutan.

Eksekusi dilakukan segera, beberapa di antaranya disaksikan oleh pejabat lain. Tidak ada kesempatan untuk banding, tidak ada pengadilan yang sebenarnya—hanya vonis cepat yang dieksekusi tanpa ampun.

Infografik garis waktu peristiwa 22 Juli 1979, mulai dari rapat darurat pagi hari hingga eksekusi sore dan penyebaran berita malamnya.
Rangkaian peristiwa dalam satu hari pembersihan politik irak, dari rapat darurat hingga eksekusi massal 1979 22 orang.

Analisis: Mengapa Saddam Memilih 22 Juli 1979?

Tindakan ini bukan kebetulan, dan pemilihan waktunya strategis. Saddam baru enam hari menjabat sebagai presiden, dan ia perlu menghapus segala potensi ancaman sebelum mereka sempat bergerak.

Dalam politik otoritarian, momen transisi kekuasaan sering menjadi saat paling rentan. Pembersihan awal yang kejam sering dilakukan untuk menegaskan otoritas mutlak. Dengan mengeksekusi lawan-lawannya di awal masa jabatan, Saddam memastikan bahwa tidak ada oposisi terorganisir yang tersisa.

Selain itu, dengan melibatkan televisi, Saddam memanfaatkan media sebagai alat kekuasaan. Ia paham bahwa kekuatan visual lebih efektif daripada sekadar laporan tertulis atau rumor. Ketika rakyat melihat langsung wajah-wajah yang ketakutan dan nama-nama yang dipanggil, efeknya menjadi permanen di ingatan kolektif.


Dampak Politik dan Psikologis

Setelah peristiwa 22 Juli, Partai Ba’ath mengalami transformasi besar. Struktur internalnya menjadi jauh lebih homogen, dengan anggota yang tersisa adalah mereka yang paling setia pada Saddam. Militer dan aparat keamanan semakin tunduk pada kekuasaan presiden, dan segala potensi pemberontakan internal lumpuh total.

Bagi rakyat Irak, peristiwa itu menegaskan reputasi Saddam sebagai pemimpin yang kejam, tak ragu menggunakan kekerasan untuk mempertahankan kekuasaan. Rasa takut meresap ke seluruh lapisan masyarakat, menciptakan atmosfer di mana kritik atau oposisi hampir mustahil muncul.

Secara psikologis, strategi memaksa rekan mengeksekusi rekan menciptakan “ikatan darah” yang membuat para pelaksana sulit melepaskan diri dari rezim. Mereka tahu bahwa jika Saddam jatuh, mereka pun bisa dituntut atas keterlibatan mereka.


Warisan Sejarah

Bagi sejarawan dan pengamat politik, 22 Juli 1979 menjadi contoh ekstrem dari bagaimana pemimpin otoriter menggunakan kombinasi kekerasan langsung dan media massa untuk mengonsolidasikan kekuasaan. Peristiwa ini sering dibandingkan dengan pembersihan besar-besaran dalam rezim otoriter lain, seperti “Great Purge” di Uni Soviet era Stalin atau pembantaian politik di beberapa negara Amerika Latin.

Bedanya, Saddam tidak menyembunyikan tindakannya di balik proses rahasia. Sebaliknya, ia menyiarkannya ke seluruh negeri, menjadikannya tontonan publik yang berfungsi sebagai ancaman dan sekaligus pembenaran.


Refleksi

Peristiwa ini meninggalkan pertanyaan penting: seberapa besar kekuasaan bisa bertahan hanya dengan rasa takut? Saddam berhasil memerintah Irak selama 24 tahun setelah pembersihan ini, tetapi warisan pemerintahannya penuh dengan represi, konflik, dan akhirnya kejatuhan di tangan invasi asing pada 2003.

Bayangan seorang tahanan dengan tangan terikat berdiri di depan dinding, dihadapkan pada siluet regu tembak bersenjata.
Representasi simbolik eksekusi 22 pejabat Partai Ba’ath pada 22 Juli 1979 tanpa menampilkan kekerasan eksplisit.

Bagi banyak orang Irak, ingatan akan hari itu tetap hidup—hari ketika teman menjadi algojo, dan kesetiaan diukur dengan kesediaan untuk membunuh demi pemimpin.


Kesimpulan


22 Juli 1979 bukan sekadar tanggal dalam kalender sejarah Irak. Itu adalah titik balik di mana Saddam Hussein menegaskan bahwa kekuasaannya dibangun di atas rasa takut, kekerasan, dan pertunjukan publik. Dengan menggabungkan teror dan propaganda, ia tidak hanya membungkam oposisi, tetapi juga menanamkan ketakutan yang merasuk ke setiap sudut negeri, sebuah strategi yang meninggalkan bekas mendalam dalam politik Irak hingga jauh setelah rezimnya tumbang.

1 thought on “22 Juli 1979: Pembersihan Politik Brutal Saddam Hussein”

  1. Pingback: Great Purge: Pembersihan Besar Stalin (1936–1938) -

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *